top of page

Search Results

34 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Berita | FORINA

    FORINA Dukung Komunitas Hatabosi Raih Kalpataru 2020 untuk Kearifan Lokal Menjaga Habitat Orangutan Di lereng Gunung Sibual-buali, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terdapat komunitas adat Hatabosi yang dikenal akan komitmennya... 3 menit membaca Aksi Damai di Kejaksaan Tinggi Sumut, Suara untuk Orangutan dan Kelestarian Hutan Pada Senin, 4 September 2023, berbagai organisasi konservasi bergabung dalam aksi damai di depan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.... 2 menit membaca FORINA Sends a Letter to the Head of Langkat District Prosecutor’s Office Regarding the Possession of Protected Wildlife On September 3, 2023, FORINA, along with several member organizations from the NGO Chamber, sent an official letter to the Head of the... 2 menit membaca

  • Dukungan Kebijakan | FORINA

    Dukungan Kebijakan FORINA memberikan dukungan kepada pemerintah dalam penyusunan kebijakan terkait konservasi orangutan seperti peraturan menteri, penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia, Penyusunan PHVA Orangutan, SOP, juga panduan teknis yang berfokus pada pelestarian habitat, penanganan konflik manusia-orangutan, penyelamatan, rehabilitasi serta pelepasliaran orangutan. Melalui kerjasama yang erat dengan pihak pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, FORINA berperan aktif dalam mengawal kebijakan-kebijakan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi yang berkelanjutan, berbasis ilmiah, dan berpihak pada kesejahteraan orangutan serta ekosistemnya.

  • FORINA - Forum Konservasi Orangutan Indonesia

    Selamat datang di FORINA, Forum Konservasi Orangutan Indonesia, sebuah platform yang didedikasikan untuk melindungi dan melestarikan orangutan serta habitatnya melalui sinergi dan kolaborasi dalam kerja konservasi. Sinergi dan Kolaborasi Untuk Orangutan Indonesia Selamat datang di FORINA - Forum Konservasi Orangutan Indonesia! Kami adalah forum multipihak yang menyatukan energi dan ide dari berbagai pihak untuk satu tujuan yaitu melindungi orangutan dan habitat hutan yang menjadi rumahnya. Sejak berdiri pada 2009, FORINA bergerak sebagai ruang kolaborasi, tempat berbagi gagasan, pengetahuan, pengalaman, dan strategi konservasi. Kami percaya bahwa upaya menjaga orangutan akan lebih kuat jika dilakukan bersama, melalui pendekatan yang terbuka, partisipatif, dan saling mendukung. Dari kampanye kesadaran publik hingga mendorong kebijakan yang berpihak pada konservasi, FORINA terus mendorong langkah-langkah yang berdampak dan berkelanjutan. Karena setiap aksi, sekecil apa pun, bisa jadi bagian dari perubahan besar untuk masa depan orangutan dan hutan Indonesia. Tentang FORINA Mission Statement FORINA berkomitmen untuk mempromosikan konservasi orangutan Indonesia melalui peningkatan kesadartahuan, advokasi kebijakan, dan dukungan berkelanjutan. Kami memfasilitasi sinergi dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan dunia pendidikan untuk memastikan kelangsungan hidup orangutan dan keberlanjutan lingkungan Indonesia. Fakta Orangutan Orangutan di Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang No. 32 Tahun 2024, P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 T entang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi >78% Habitat Orangutan ada di Luar Kawasan Konservasi Artinya sebagian besar hutan tempat tinggal orangutan tidak berada di area yang resmi dilindungi, seperti taman nasional atau suaka margasatwa. Akibatnya, habitat ini lebih rentan terhadap alih fungsi lahan, penebangan, dan aktivitas manusia lainnya yang mengancam kelangsungan hidup orangutan. Perlindungan yang lebih luas sangat dibutuhkan agar habitat mereka tetap aman. 13710 Sumatra 760 Tapanuli 57360 Kalimantan Bersama untuk Orangutan Orangutan tidak bisa bicara, tapi kita bisa jadi suaranya. Di FORINA, kami bukan hanya bicara konservasi, kami menghubungkan banyak suara: peneliti, komunitas, pelaku usaha, pemerintah, hingga generasi muda. Forum ini dibangun atas dasar kolaborasi, karena perlindungan orangutan tidak bisa dilakukan sendiri. FORINA menjadi ruang bertemu dan bertumbuh bersama untuk menyusun strategi, berbagi solusi, dan mendorong aksi nyata. Bukan sekadar menyelamatkan satwa, tapi juga memastikan hutan tetap hidup, untuk orangutan, dan untuk kita semua. Lihat Orangutan di Indonesia Program FORINA Penguatan Jaringan Peningkatan Kapasitas Kampanye dan Penyadartahuan Kolaborasi Multispesies Dukungan Kebijakan Orangutan Life Youths Komunitas anak muda dibawah naungan FORINA yang peduli terhadap konservasi orangutan dan hutan Indonesia. Lewat aksi kreatif, edukasi, dan kolaborasi, OLY jadi ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam menjaga alam. Klik tombol di bawah ini untuk mengenal OLY lebih dekat! Lebih Lanjut Laporan Baca laporan lengkap tentang kegiatan konservasi orangutan yang telah dilakukan oleh FORINA. Selengkapnya PHVA 2016 Panduan Panduan ini berisi langkah-langkah penting untuk berkontribusi dalam konservasi orangutan di Indonesia. Selengkapnya Bayi Orangutan Itu Manja Banget? Ini Yang Dinamakan Ikatan Ibu dan Anak Orangutan yang Mengharukan! Orangutan dikenal sebagai salah satu hewan paling cerdas di dunia, tetapi ada satu hal lain yang membuat mereka begitu istimewa: ikatan... Ikhlas Afiif 16 Sep 2025 Orangutan Makan Pisang Doang? Eits, Menu Orangutan Jauh Lebih Beragam Lho! Kalau dengar kata “orangutan,” banyak orang langsung kepikiran dengan pisang. Padahal, pisang bukanlah makanan utama mereka. Di hutan... Ikhlas Afiif 15 Sep 2025 Perdagangan Orangutan, Ancaman Nyata bagi “Petani Hutan”! Source: Orangutan Orangutan bukan hanya primata yang cerdas dan menggemaskan, tetapi juga memegang peran penting dalam menjaga... Ikhlas Afiif 12 Sep 2025 Kabar Orangutan Anda dapat membaca kabar seputar orangutan disini . Anda bisa membantu kami untuk melestarikan Orangutan di Indonesia Dukung FORINA

  • Orangutan di Indonesia | FORINA

    Orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di daratan Asia. Kerabat terdekat lainnya berasal dari Afrika, yaitu: simpanse, gorilla, dan bonobo. Di Indonesia, orangutan dilindungi oleh No. 32 Tahun 2024, P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Di dunia internasional, orangutan telah masuk dalam kategori Kritis (Critically Endangered) oleh IUCN karena populasinya di alam semakin berkurang, sebagai akibat dari perburuan, perdagangan, deforestasi dan konflik dengan manusia. Selain itu CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) memasukkan orangutan dalam Appendix I, yaitu dilarang untuk diperjualbelikan dalam bentuk apapun. Ada tiga jenis orangutan di Indonesia, yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii ), orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis ), dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus ) Populasi orangutan menurun drastis dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Berdasarkan analisis PHVA (Population Habitat Viability Analysis) tahun 2016, diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan, yang tersebar pada 51 metapopulasi di kawasan seluas 17.460.000 hektar. Sekitar 57.350 orangutan kalimantan menghuni kawasan seluas 16.013.600 hektar, dengan sub-spesies terbanyak yaitu Pongo pygmeaus wurmbii (38.200 individu). Di Sumatera, sekitar 14.470 individu. Orangutan hidup di hutan tropis dan saat ini terancam punah. Sebagai spesies umbrella, orangutan membantu melindungi ekosistem hutan tropis di mana mereka tinggal dan juga spesies lain yang hidup di dalamnya. Dalam hal ini, orangutan menjadi "payung" atau "pelindung" bagi spesies lain dan lingkungan di sekitarnya Kehadiran orangutan di hutan tropis memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, karena mereka merupakan herbivora utama yang menyebarkan biji-bijian melalui feses mereka, yang pada gilirannya membantu memperbarui tumbuhan di hutan tropis. Selain itu, orangutan juga berperan sebagai pemangsa dan mangsa dalam rantai makanan hutan tropis, sehingga keberadaan mereka membantu menjaga keseimbangan ekosistem yang kompleks. Dengan demikian, melindungi habitat orangutan dan memastikan keberlangsungan hidup mereka tidak hanya membantu menjaga populasi orangutan tetap lestari, tetapi juga mempertahankan keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem di hutan tropis. Oleh karena itu, orangutan merupakan salah satu spesies umbrella yang sangat penting untuk dijaga keberadaannya. Orangutan Sumatra (Pongo Abelii) Pemilik nama ilmiah Pongo abelii ini, memiliki ciri-ciri ukuran tubuh lebih kecil dan berambut oranye yang lebih cerah jika dibandingkan dengan orangutan kalimantan. Satwa bernama lokal mawas atau maweh ini, memiliki berat tubuh maksimal 90 kilogram. Orangutan sumatera tersebar dari bagian utara sumatera hingga bagian barat Danau Toba. Selain itu, jenis ini juga tersebar di Lansekap Bukit Tiga Puluh, yang merupakan populasi hasil pelepasliaran. Warna rambut orangutan sumatera berwarna cokelat agak oranye dan terlihat lebih cerah dibandingkan kerabatnya di kalimantan. Berdasarkan penelitian, makanan utama orangutan sumatera adalah buah-buahan. Musim buah di Sumatera memang lebih panjang dibandingkan di Kalimantan, sehingga buah melimpah sepanjang tahun. Orangutan sumatera adalah satwa arboreal yang menghabiskan waktunya di pohon, seperti mencari makan, membuat sarang dan tidur di kanopi pohon. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) Orangutan tapanuli sejatinya sudah dikenal masyarakat setempat, dan oleh para peneliti sebagai orangutan sumatera, sebelum diketahui merupakan spesies yang berbeda. Tak ada yang menyangka apabila spesies ini merupakan jenis berbeda dari orangutan sumatera. Berdasarkan penelitian genetika, orangutan di Batang Toru memiliki kekerabatan lebih dekat dengan orangutan kalimantan dibandingkan orangutan sumatera. Orangutan tapanuli hanya dapat dijumpai di Ekosistem Batang Toru, di Sumatera Utara. Jenis ini resmi dinyatakan sebagai species yang berbeda pada bulan November 2017. Orangutan tapanuli hidup pada habitat sangat terbatas, dalam areal sekitar 132 ribu hektar di bentang alam Batang Toru dan beberapa habitat lain yang terus diteliti. Kondisi habitatnya juga terpisah, karena faktor alam maupun akibat pembangunan di sekitarnya. Saat ini, jumlah orangutan tapanuli di alam liar diperkirakan kurang dari 800 individu. Kondisi ini menjadikannya sebagai salah satu jenis primata yang paling terancam punah di dunia. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Berdasarkan studi genetika, orangutan kalimantan telah diidentifikasi memiliki tiga subspesies: Pongo pygmaeus pygmaeus penyebarannya di bagian utara Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) sampai ke timur laut Sarawak (Malaysia). Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari bagian selatan Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) hingga bagian timur Sungai Barito (Kalimantan Tengah). Pongo pygmaeus morio tersebar mulai dari Sabah (Malaysia) sampai ke selatan mencapai Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Secara fisik, Pongo pygmaeus wurmbii merupakan subspesies orangutan paling besar dan Pongo pygmaeus morio adalah sub-spesies orangutan paling kecil di antara kerabatnya yang lain di Kalimantan. Di Kalimantan, orangutan memiliki banyak sebutan. Beberapa daerah ada yang menyebutkan hirang, helong lietiea, kahui, kisau, kogju, kuyang, kahiyu, oyang dok, ulang, uyang paya, dan maias.

  • PHVA 2016 | FORINA

    Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan 2016 Rangkaian kegiatan analisis kelangsungan hidup populasi dan habitat (Population and Habitat Viability Analysis/ PHVA) orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), dimulai sejak 2015, dan ditutup dengan lokakarya pada bulan Mei 2016 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Setelah melalui beberapa proses penyutingan, dokumen hasil analisis ini diterbitkan pada 2019. Kemudian, hasil dari PHVA Orangutan 2016 digunakan sebagai acuan utama dalam penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) 2019-2029, sebagai pengganti SRAK 2007-2017 yang telah berakhir. Rangkaian kegiatan analisis ini terlaksana atas kerjasama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dengan Forum Orangutan Indonesia (FORINA), Orangutan Foundation-United Kingdom, IUCN SSC Primate Specialist Group, IUCN SSC Conservation Breeding Specialist Group, juga didukung oleh lembaga-lembaga dan para praktisi-pemerhati konservasi orangutan. Berdasarkan hasil PHVA Orangutan, saat ini diperkirakan terdapat 71.820 individu orangutan yang tersisa di Pulau Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah dan Serawak) di habitat seluas 17.460.600 hektar. Populasi tersebut tersebar ke dalam 52 metapopulasi dan hanya 38% di antaranya diprediksi akan lestari (viable) dalam 100-500 tahun ke depan. Sejak dikaji pada PHVA 2004 yang lalu, kajian tentang populasi dan distribusi orangutan sumatera (Pongo abelii) yang dilakukan semakin berkembang dan lebih rinci. Popoulasi dan distribusi orangutan sumatera dari yang semula diprediksi ada 6.667 individu, tersebar di habitat seluas 703.100 hektar pada batas ketinggian di bawah 800 m dpl, saat ini populasinya diperkirakan ada 14.470 individu dan menempati habitat seluas 2.155.692 hektar. Saat ini orangutan sumatera dapat dijumpai di habitat sampai dengan ketinggian 1.500 m dpl, tersebar di 10 metapopulasi. Dari 10 metapopulasi tersebut, hanya dua populasi di antaranya yang diprediksi akan lestari (viable) dalam waktu 100-500 tahun kedepan, itupun di lokasi pelepasliaran di Jantho (Aceh Tenggara) dan Bukit Tigapuluh (Jambi). Lain di Sumatera lain pula di Borneo. Saat ini orangutan borneo (Pongo pygmaeus) diperkirakan terdapat 57.350 individu, menempati habitat seluas 16.013.600 hektar yang tersebar di 42 kantong populasi. Sekitar 18 individu di antaranya diprediksi akan lestari dalam waktu 100-500 tahun ke depan. Kondisi ini memperbaharui fakta 10 tahun lalu yang menyebutkan bahwa populasi orangutan borneo diprediksi sekitar 54.817 individu pada habitat seluas 8.195.000 hektar. Selain itu, terdapat juga populasi orangutan borneo yang hidup di satu bentang alam yang habitatnya saling terhubung dengan Malaysia, yaitu populasi dari sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus yang ada di metapopulasi Taman Nasional Betung Kerihun - Batang Ai-Lanjak Entimau, Taman Nasional Klingkang Range-Sintang Utara serta Taman Nasional Bungoh - Hutan Lindung Penrisen. Untuk itu, perlu adanya kerjasama konservasi orangutan dan habitatnya antara Indonesia dan Malaysia untuk melindungi populasi ini. Berdasarkan kajian kelangsungan hidup populasi (Population Viability Analysis/PVA), angka minimum populasi orangutan kalimantan yang dapat bertahan dalam suatu habitat adalah 200 individu dengan kemungkinan kepunahan kurang dari 1% dalam 100 tahun, kurang dari 10% dalam kurun waktu 500 tahun. Dan, dibutuhkan 500 individu untuk menjaga kualitas dan variasi genetika. Dari segi habitat, banyak metapopulasi orangutan kalimantan yang terfragmentasi dan membutuhkan koridor agar terhubung dengan metapopulasi lainnya. Kondisi populasi orangutan yang menurun ini menunjukkan peningkatan ancaman kelestarian orangutan dan habitatnya, sebagai akibat dari konversi hutan yang merupakan habitat orangutan. Selain itu, tingginya frekuensi aktivitas penyelamatan (rescue) dan konfiskasi juga menambah deret ancaman terhadap kelestarian orangutan. Oleh karena itu, perlindungan kawasan konservasi kebutuhan serius disamping juga penerapan praktik-praktik pengelolaan terbaik (best management practices) di dalam wilayah konsesi yang menjadi habitat orangutan. Final Report: Orangutan Population and Habitat Viability Assessment 2016 dapat didownload disini Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) The 1993 PHVA Report The 2001 Orangutan Reintroduction and Protection Workshop report The 2002 Orangutan Conservation and Reintroduction Workshop report The 2004 PHVA Orangutan Workshop Report The Indonesian Orangutan Conservation Strategies and Action Plan 2007 – 2017 IUCN/SSC Best Practice Guidelines for the Reintroduction of Great Apes IUCN/SSC Reintroductions and Other Conservation Translocations IUCN/SSC Manual of Procedures for Wildlife Disease Risk Assessment IUCN/SSC Guidelines for the Placement of Confiscated Animals Sumatran Orangutan Conservation Action Plan 2005 Mapping perceptions of species’ threats and population trends to inform conservation effort: the Bornean orangutan case study. Recommendation on Conservation Unit of Orangutan in the Context of Re-introduction, 2015 Orangutan population biology, life history, and conservation. Marshall et al 2011. Sabah Orangutan Action Plan 2012-2016. Summary of National Monitoring and Evaluation of Indonesian Orangutan Conservation Strategic and Action Plan 2007-2017 in 2013. Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp.) on Borneo and Sumatra: How many remain? Land-cover changes predict steep declines for the Sumatran orangutan (Pongo abelii), 2016 Understanding the impacts of land-use policies on a threatened species: Is there a future for the Bornean Orang-utan? Reintroduction of confiscated and displaced mammals risks outbreeding and introgression in natural populations, as evidenced by orang-utans of divergent subspecies Projecting genetic diversity and population viability for the fragmented orang-utan population in the Kinabatangan floodplain, Sabah, Malaysia.

  • Laporan | FORINA

    Laporan Laporan Evaluasi Strategi Dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2011-2013 Lebih Lanjut Final Report: Improved Orangutan Conservation in IFACS Landscapes Lebih Lanjut Daerah Jelajah Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii, TIEDEMANN 1808) Remaja Berdasarkan Ketersediaan Tumbuhan Berbuah di Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan Kalimantan Tengah. Lebih Lanjut Laporan Survei Populasi dan Distribusi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Tabalong, Kalimantan Selatan Lebih Lanjut Final Report: Pengembangan Ekowisata di Hutan Lindung Sungai Paduan Kabupaten Kayong Utara Lebih Lanjut Prosiding Lokakarya dan Keanekaragaman Hayati dan Strategi Perbaikan Habitat Orangutan di Koridor Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) – Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) Lebih Lanjut Laporan Lengkap Program Kolaborasi Landskap Aceh Tenggara Lebih Lanjut Laporan Final Kalimantan Wide Survey 2 Lebih Lanjut Laporan Lanskap - Aceh Selatan Lebih Lanjut Prosiding IWOC Bahasa Lebih Lanjut Kearifan Lokal Konservasi OU di Koridor TNBK-TNDS_Sundjaya et al 2016 Lebih Lanjut

  • Panduan | FORINA

    Panduan SOP KSDAE. NO 2. Penyelamatan Rehabilitasi Pelepasliaran Orangutan Lebih Lanjut Panduan Pengarusutamaan Konservasi Orangutan dalam Penataan Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten Lebih Lanjut Panduan Pengamanan Hutan Berbasis Komunitas Lebih Lanjut Panduan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Bersama Masyarakat di Hutan Lindung Sungai Paduan, Kab. Kayong Utara, Kalimantan Barat Lebih Lanjut Panduan Penanganan Kebakaran di Habitat Orangutan Lebih Lanjut Panduan Mitigasi Konflik Manusia – Orangutan Lebih Lanjut Prosedur Konservasi Orangutan in situ di Luar Kawasan Konservasi Lebih Lanjut Panduan Tanya Jawab Seputar Orangutan Lebih Lanjut Panduan Teknis Lapangan Survei dan Monitoring : Populasi Orangutan dan Habitatnya Lebih Lanjut Konsep Koridor Orangutan Lebih Lanjut Tambang BMP Layout Lebih Lanjut Palm Oil BMP Layout Lebih Lanjut Lembar Kebijakan Konservasi Orangutan Lebih Lanjut HTI BMP Layout Lebih Lanjut HPH BMP Layout Lebih Lanjut

  • Link Unavailable | FORINA

    Link Tidak Ditemukan Oops! Si orangutan lagi narik kabel, nih. Tautan ini tidak dapat diakses untuk sementara waktu, coba lagi nanti ya!

  • 404 Error Page | FORINA

    Laman Tidak Ditemukan. Error: 404 Kembali ke Beranda

thumbnail_logoforina_baru outline putih.png

Forum Konservasi

Orangutan Indonesia

SEKRETARIAT

Email

Alamat

Wellspaces Kemang,

Jl. Bangka XII. No. 4.

Jakarta, 12720 - INDONESIA

DUKUNGAN

  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn

Copyright © 2025 FORINA - Forum Konservasi Orangutan Indonesia.

bottom of page